SERIAL NEGERI SERIBU SELOKA: JERIT DI LAHAN SAWIT
(Dimas Arika Mihardja, Jambi-Indonesia)
barisan pohon kelapa sawit
hanyalah kisah orang alit yang terlilit dan terjepit
termangu dalam baris-baris gurit yang menjeritkan musim pailit
pintu kayu pondok bambu berderit
mengangakan luka
tukang kredit mengacungkan clurit
bapak-emak pun lari terbirit
di buritan tongkang dan pompong
tandan kelapa sawit diborong oleh acong
diboyong ke pabrik-pabrik
mulut anak-anak seperti cerobong asap
mengangakan lapar tak tertahankan
oi, bapak
si kulup sakit malaria
oi, emak si bujang terserang kolera
barisan pohon kelapa sawit
adalah larik-larik seloka
senandung dukalara
sajak penuh isak
puisi tragedi
tandan-tandan kelapa sawit
adalah buntalan keringat bapak-emak
diperas jadi minyak
tapi semua tahu
air dan minyak
tak pernah
menyatu
oi, mak
pedih
perih
oi!
2011
alit = (Jawa: kecil), gurit (Jawa: puisi)
Sabtu, 19 Februari 2011
BUNGA KERTAS DI MESJID RAYA BAITURRAHMAN
(Dimas Arika Mihardja, Jambi-Indonesia)
usai sudah kucium ubin dingin sebagai sajadah
di halaman mesjid tumbuh berjuta bunga kertas
berbuah aneka pesan tsunami
pada sebuah pohon kertas kembali kutulis pesan langit
tentang kebangkitan dan isyarat-isyarat
yang menuntun ke sebuah alamat:
kuburan massal tanpa nisan
usai sudah kucium ubin dingin sebagai sajadah
hati kembali teriris saat rumput-rumput di pemakaman
menuding langit dan pengembala mengayunkan arit
memangkasnya, padahal di bawah akar rumput itu
berjuta jasad tanpa nama menghormat bendera di atasnya
padahal deru kendaraan di sepanjang jalan ini terus mengepulkan asap
menerbangkan debu ke langit biru hatiku
usai sudah kucium ubin dingin sebagai sajadah
aku bukan teroris atau turis
aku hanyalah musyafir yang mampir melantunkan tembang duka
bagi aceh, bagi sejuta hati yang tertoreh pada pohon kertas
yang digores oleh jemari tangan gemetar di halaman mesjid Baiturrahman
"ya Rahman, begitu dalam luka mengangakan doa
Perkenankan rencongku kembali berkilau dalam ketajaman
memungut puing-puing peradaban yang berserakan
bengkel puisi swadaya mandiri, 2011
+ oleh-oleh ziarah cinta sepanjang jejak tsunami 21-25 desember 2010
usai sudah kucium ubin dingin sebagai sajadah
di halaman mesjid tumbuh berjuta bunga kertas
berbuah aneka pesan tsunami
pada sebuah pohon kertas kembali kutulis pesan langit
tentang kebangkitan dan isyarat-isyarat
yang menuntun ke sebuah alamat:
kuburan massal tanpa nisan
usai sudah kucium ubin dingin sebagai sajadah
hati kembali teriris saat rumput-rumput di pemakaman
menuding langit dan pengembala mengayunkan arit
memangkasnya, padahal di bawah akar rumput itu
berjuta jasad tanpa nama menghormat bendera di atasnya
padahal deru kendaraan di sepanjang jalan ini terus mengepulkan asap
menerbangkan debu ke langit biru hatiku
usai sudah kucium ubin dingin sebagai sajadah
aku bukan teroris atau turis
aku hanyalah musyafir yang mampir melantunkan tembang duka
bagi aceh, bagi sejuta hati yang tertoreh pada pohon kertas
yang digores oleh jemari tangan gemetar di halaman mesjid Baiturrahman
"ya Rahman, begitu dalam luka mengangakan doa
Perkenankan rencongku kembali berkilau dalam ketajaman
memungut puing-puing peradaban yang berserakan
bengkel puisi swadaya mandiri, 2011
+ oleh-oleh ziarah cinta sepanjang jejak tsunami 21-25 desember 2010
LARUNG RINDU
Dimas Arika Mihardja
LARUNG RINDU
begitu ingin kukisahkan
perigi rindu di gurun sunyiku*)
begitulah awal langkah menapakkan jejak
di pantaimu; aku menemu riak dan ombak
mencumbu karang, teripang, segala bayang
di pantai ini kembali kutangkap gelinjang rindu
berdesir di atas pesisir; kusisir rambut waktu
yang tergerai dan tak lelah kuurai dengan jemari bergetar
masih kurasakan sisa isak terakhir saat angin berdesir
dan kuabadikan pada sebuah rendezvous
saat dirimu begitu nervous dan aku serupa ahasveros
tak letih mengeja erros
begitu ingin kukisahkan
perigi rindu di gurun sunyiku*)
lewat desir angin penuh ingin
di tengah pergulatan menahan kerinduan
bengkel puisi swadaya mandiri jambi, 2011
*) larik puisi "Larung Rindu" karya Heru Emka
LARUNG RINDU
begitu ingin kukisahkan
perigi rindu di gurun sunyiku*)
begitulah awal langkah menapakkan jejak
di pantaimu; aku menemu riak dan ombak
mencumbu karang, teripang, segala bayang
di pantai ini kembali kutangkap gelinjang rindu
berdesir di atas pesisir; kusisir rambut waktu
yang tergerai dan tak lelah kuurai dengan jemari bergetar
masih kurasakan sisa isak terakhir saat angin berdesir
dan kuabadikan pada sebuah rendezvous
saat dirimu begitu nervous dan aku serupa ahasveros
tak letih mengeja erros
begitu ingin kukisahkan
perigi rindu di gurun sunyiku*)
lewat desir angin penuh ingin
di tengah pergulatan menahan kerinduan
bengkel puisi swadaya mandiri jambi, 2011
*) larik puisi "Larung Rindu" karya Heru Emka
Jumat, 18 Februari 2011
ZDIKIR PENYAIR
Dimas Arika Mihardja
ZDIKIR PENYAIR
JALAN BERLIKU MENUJUMU (1)
: fitri
inilah jalan yang mesti ditelisik, sayang
sebuah jalan berliku menuju Rumahmu
rumah kehangatan yang terjanjikan :
ranjang keabadian
sepanjang badan jalan pohon pohon hayat tumbuh
tak pernah mengeluhkan cumbuan angin dan tamparan badai
dicengkeramnya tanah tanah amanah dengan akar tunjang
dan akar serabut selalu menyebut nama nama di balik kabut
dahan dan ranting itu menuding langit menjeritkan doa dan damba
daun daun yang rimbun menyediakan diri bagi embun berayun
pasrah menanti matahari menyempurnakan kilau-Nya
bengkel puisi swadaya mandiri
jambi 25 juli 2010
JALAN BERLIKU MENUJUMU (2)
: kudus
telah kupanggul hatiiku menemu panggilan menaramu
kubasuh debudebu waktu dengan air wudhlu
di atas sajadah basah airmata aku terbang menembus langit Cinta
o, hatiku jatuh di sepanjang perjalanan
bergantungan sebagai embun diujung daun
dari waktu ke waktu kupungut remah cintaku
kubasuh dan kuasuh dalam gendongan rindu
memasuki Rumahmu
jalan berliku menujumu
ku terus berjalan menapaki jejak dan isyarat langit
o, berikan rambu menuju satu pintu
menuju Dekap paling lindap
bengkel puisi swadaya mandiri
jambi 26 juli 2010
JALAN BERLIKU MENUJUMU (3)
: marhaban ya ramadhan
biar susah sungguh mengingat Kau penuh seluruh
chairil kecil pernah sampai di depan sebuah pintu dan beritikaf:
"di pintumu aku mengetuk, aku tak bisa berpaling"
dan raja penyair pujangga baru menyeru penuh haru:
"kasihmu sunyi, menunggu seorang diri"
lalu abdul hadi pun berfatwa: "kita begitu dekat serupa kain dengan kapas"
kini kupetik kapas dari pohon randu penuh rindu dan kupintal menjadi kain
yang bertuliskan kaligrafi Cinta
aku menuju pulang ke Rumah
merajut sujud di sudut hati paling sunyi
merenda kalam sepanjang malam
mengucap dan mengecup rasa sayang
pagi hingga petang
marhaban, ya ramadhan
aku datang di depan gapura Pintu
menghapus jejak kepurapuraan
menata makna doa dengan lidah ibadah
tak mengenal lelah: pasrah!
bengkel puisi swadaya mandiri
jambi 26 juli 2010
JALAN BERLIKU MENUJUMU (4)
: buat guru sejati
saat penciptaan pertama ialah Cinta
sebuah kata yang terus saja melahirkan puisi
di sepanjang aliran dan denyut nadi
pada layar putih tak letih kulahirkan kata:
mencintaimu
guru tak pernah ragu menanam kata Cinta
memupuknya dengan makna dan doa semesta
sepanjang waktu guru tak ragu berjalan menuju satu tujuan
memanen kata Cinta
jalan berliku menujumu, memujaMu
sepanjang tualang kafilah tak lelah memungut kata dan mengeja makna Cinta
lalu mengabadikannya di kedalaman dada membara
lalu mengendapkannya di dasar suara hati yang menyanyikan qasidah
sembari tak lelah menyanyikan barzanji puja-puji bagi cahaya
: mencinta!
bengkel puisi swadaya mandiri
jambi 26 juli 2010
JALAN BERLIKU MENUJUMU (5)
: bersama yuli dan fitri
di atas kuda bersurai kita pacu kata melintas kota
aspal jalan yang mulai leleh tak lelah meriwayatkan tangantangan kekuasaan
kalian selalu mengingatkan, "hati-hati ada lubang di sepanjang jalan berliku"
aku lalu melucu "hei, lihat, ada lubang berjalan menawarkan kenikmatan!"
engkau rapikan jilbabmu saat angin kencang menderu
kulihat ada binar di cerlang matamu saat terlihat kubah mesjid
dan menara yang menyangga bintang dan rembulan
"kita basuh debu di wajah kita?"
kita melangkah menyisir jalan berliku dan berdebu
angin menerbangkan kapuk randu
dan engkau menjelma kupukupu bersayap rindu
" hayo, kita lacak jejak di semak kata dan doa!"
kita lantas menemu jalan berliku :
menujuMu.
bengkel puisi swadaya mandiri
jambi 26 juli 2010
JALAN BERLIKU MENUJUMU (6)
: nyayian duniawi
perjalanan ini terasa sangat panjang dan berliku
saat angin merasuk badan kalian sibuk mengerok punggung
mengoleskan minyak gosok di perut yang kembung
saat musik mulai meliuk kalian bergegas masuk ke dalam ruang karaoke
menyanyikan lagu duniawi sembari sempoyongan lantaran menenggak minuman
saat gema adzan masuk ke kamar tidur kalian mengetatkan pelukan
terus saja bergumul dengan kesiasiaan
saat pintu ada yang mengetuk kalian mengutuk
mengusir tamu yang meminta sedekah
wajah kabut menyungkup dan menutup pandangan
aku saksikan wajahwajah kecemasan berjalan menembus kelam
memikul beban dosa purba yang tak tertanggungkan
merajut perih luka menganga
tertatihtatih
letih
merintih
jemari tak letih meniti tasbih
menghitung perih luka
sendirian aku berjalan di bawah gerimis
sungguh, jalan berliku menujuMu
bengkel puisi swadaya mandiri
jambi 26 juli 2010
JALAN BERLIKU MENUJUMU (7)
: nani tandjung
bila cinta tak sampai
kukirim doa melintas gelap malam
melacak jejak sajak di jalan berliku menuju satu pintu :
hatimu
bila cinta tak sampai
jangan merasa ada yang terbadai
sebab sepatah kata menyediakan muara :
makna
bila cinta tak sampai
pada tirai waktu terbubuh indah nama :
Kekasih!
bengkel puisi swadaya mandiri
27 juli 2010
JALAN BERLIKU MENUJUMU (8)
: coretan perempuan
Anna Noor mencoreti dinding hati:
KULEPAS ENGKAU DENGAN DOA*)
Pergilah cinta
Kulepas engkau dengan doa
Agar kau bahagia dengan satu yang lain
Kulepas kau hingga kenangan pun pergi
Biar semua terseret waktu dan angin membawanya lari.
***Pamulang hening, 2 Maret 2007
aku pun terbang mengepakkan sayapsayap cinta
menembus cakrawala seberangi samodera makna ketulusan
telah kupilih satu jalan menuju cinta seperti Dia yang Mahakasih
telah kudekap kenangan di atas roda sepeda, senyum, dan cahaya mata
kini aku telah sampai di depan gapura
duduk diaduk genang kenangan mencinta
di atas sajadah basah telapak tangan menengadah:
"bukalah pintu maafmu".
bengkel puisi swadaya mandiri
jambi 27 juli 2010
JALAN BERLIKU MENUJUMU (9)
: di mesjid
sampai di muka mesjid pintu pintu dan jendela berderit
hati pun menjeritkan seruan penuh kerinduan :
kekasih, aku datang memenuhi panggilan
merajut benang menjadi kain
mengasuh kasih sepanjang biji tasbih
memasuki serambi terasa ada tangan menggamit langkah ibadah
di atas sajadah tergelar perjalanan terasa menanjak
kaki terasa tidak berpijak, jejak perjalanan kian menanjak
kedua telapak tumbuh sayap
doa melesat menembus langit
kekasih, kasihanilah aku yang mendebu
kisahkan padaku bagaimana semestinya memelihara hati
menjaga lidah dari bisikan bisikan busuk menyesatkan
menjaga telinga dari suara suara hasutan bersahutan
menjaga mata dari panorama benda benda keduniawian
bengkel puisi swadaya mandiri
jambi 27 juli 2010
NYANYIAN DUNIAWI
sepanjang jalan kurisalahkan kisah kasih dari ruang maya ke raung benda
dengus nafas pergumulan siang malam serupa nafsu kuda
berlari di atas padang sahara mengepulkan debu debu waktu
jalan masih panjang dan berliku, bergelombang
tak ada tempat berteduh bagi jiwa lepuh
tak ada ricik air bagi perasaan fakir
di atas atap sirap kau pasang parabola
kauserap gemerlap dunia benda benda
warna warni aksesori
membeli mimpi
sudah saat
berobat
ZDIKIR PENYAIR
JALAN BERLIKU MENUJUMU (1)
: fitri
inilah jalan yang mesti ditelisik, sayang
sebuah jalan berliku menuju Rumahmu
rumah kehangatan yang terjanjikan :
ranjang keabadian
sepanjang badan jalan pohon pohon hayat tumbuh
tak pernah mengeluhkan cumbuan angin dan tamparan badai
dicengkeramnya tanah tanah amanah dengan akar tunjang
dan akar serabut selalu menyebut nama nama di balik kabut
dahan dan ranting itu menuding langit menjeritkan doa dan damba
daun daun yang rimbun menyediakan diri bagi embun berayun
pasrah menanti matahari menyempurnakan kilau-Nya
bengkel puisi swadaya mandiri
jambi 25 juli 2010
JALAN BERLIKU MENUJUMU (2)
: kudus
telah kupanggul hatiiku menemu panggilan menaramu
kubasuh debudebu waktu dengan air wudhlu
di atas sajadah basah airmata aku terbang menembus langit Cinta
o, hatiku jatuh di sepanjang perjalanan
bergantungan sebagai embun diujung daun
dari waktu ke waktu kupungut remah cintaku
kubasuh dan kuasuh dalam gendongan rindu
memasuki Rumahmu
jalan berliku menujumu
ku terus berjalan menapaki jejak dan isyarat langit
o, berikan rambu menuju satu pintu
menuju Dekap paling lindap
bengkel puisi swadaya mandiri
jambi 26 juli 2010
JALAN BERLIKU MENUJUMU (3)
: marhaban ya ramadhan
biar susah sungguh mengingat Kau penuh seluruh
chairil kecil pernah sampai di depan sebuah pintu dan beritikaf:
"di pintumu aku mengetuk, aku tak bisa berpaling"
dan raja penyair pujangga baru menyeru penuh haru:
"kasihmu sunyi, menunggu seorang diri"
lalu abdul hadi pun berfatwa: "kita begitu dekat serupa kain dengan kapas"
kini kupetik kapas dari pohon randu penuh rindu dan kupintal menjadi kain
yang bertuliskan kaligrafi Cinta
aku menuju pulang ke Rumah
merajut sujud di sudut hati paling sunyi
merenda kalam sepanjang malam
mengucap dan mengecup rasa sayang
pagi hingga petang
marhaban, ya ramadhan
aku datang di depan gapura Pintu
menghapus jejak kepurapuraan
menata makna doa dengan lidah ibadah
tak mengenal lelah: pasrah!
bengkel puisi swadaya mandiri
jambi 26 juli 2010
JALAN BERLIKU MENUJUMU (4)
: buat guru sejati
saat penciptaan pertama ialah Cinta
sebuah kata yang terus saja melahirkan puisi
di sepanjang aliran dan denyut nadi
pada layar putih tak letih kulahirkan kata:
mencintaimu
guru tak pernah ragu menanam kata Cinta
memupuknya dengan makna dan doa semesta
sepanjang waktu guru tak ragu berjalan menuju satu tujuan
memanen kata Cinta
jalan berliku menujumu, memujaMu
sepanjang tualang kafilah tak lelah memungut kata dan mengeja makna Cinta
lalu mengabadikannya di kedalaman dada membara
lalu mengendapkannya di dasar suara hati yang menyanyikan qasidah
sembari tak lelah menyanyikan barzanji puja-puji bagi cahaya
: mencinta!
bengkel puisi swadaya mandiri
jambi 26 juli 2010
JALAN BERLIKU MENUJUMU (5)
: bersama yuli dan fitri
di atas kuda bersurai kita pacu kata melintas kota
aspal jalan yang mulai leleh tak lelah meriwayatkan tangantangan kekuasaan
kalian selalu mengingatkan, "hati-hati ada lubang di sepanjang jalan berliku"
aku lalu melucu "hei, lihat, ada lubang berjalan menawarkan kenikmatan!"
engkau rapikan jilbabmu saat angin kencang menderu
kulihat ada binar di cerlang matamu saat terlihat kubah mesjid
dan menara yang menyangga bintang dan rembulan
"kita basuh debu di wajah kita?"
kita melangkah menyisir jalan berliku dan berdebu
angin menerbangkan kapuk randu
dan engkau menjelma kupukupu bersayap rindu
" hayo, kita lacak jejak di semak kata dan doa!"
kita lantas menemu jalan berliku :
menujuMu.
bengkel puisi swadaya mandiri
jambi 26 juli 2010
JALAN BERLIKU MENUJUMU (6)
: nyayian duniawi
perjalanan ini terasa sangat panjang dan berliku
saat angin merasuk badan kalian sibuk mengerok punggung
mengoleskan minyak gosok di perut yang kembung
saat musik mulai meliuk kalian bergegas masuk ke dalam ruang karaoke
menyanyikan lagu duniawi sembari sempoyongan lantaran menenggak minuman
saat gema adzan masuk ke kamar tidur kalian mengetatkan pelukan
terus saja bergumul dengan kesiasiaan
saat pintu ada yang mengetuk kalian mengutuk
mengusir tamu yang meminta sedekah
wajah kabut menyungkup dan menutup pandangan
aku saksikan wajahwajah kecemasan berjalan menembus kelam
memikul beban dosa purba yang tak tertanggungkan
merajut perih luka menganga
tertatihtatih
letih
merintih
jemari tak letih meniti tasbih
menghitung perih luka
sendirian aku berjalan di bawah gerimis
sungguh, jalan berliku menujuMu
bengkel puisi swadaya mandiri
jambi 26 juli 2010
JALAN BERLIKU MENUJUMU (7)
: nani tandjung
bila cinta tak sampai
kukirim doa melintas gelap malam
melacak jejak sajak di jalan berliku menuju satu pintu :
hatimu
bila cinta tak sampai
jangan merasa ada yang terbadai
sebab sepatah kata menyediakan muara :
makna
bila cinta tak sampai
pada tirai waktu terbubuh indah nama :
Kekasih!
bengkel puisi swadaya mandiri
27 juli 2010
JALAN BERLIKU MENUJUMU (8)
: coretan perempuan
Anna Noor mencoreti dinding hati:
KULEPAS ENGKAU DENGAN DOA*)
Pergilah cinta
Kulepas engkau dengan doa
Agar kau bahagia dengan satu yang lain
Kulepas kau hingga kenangan pun pergi
Biar semua terseret waktu dan angin membawanya lari.
***Pamulang hening, 2 Maret 2007
aku pun terbang mengepakkan sayapsayap cinta
menembus cakrawala seberangi samodera makna ketulusan
telah kupilih satu jalan menuju cinta seperti Dia yang Mahakasih
telah kudekap kenangan di atas roda sepeda, senyum, dan cahaya mata
kini aku telah sampai di depan gapura
duduk diaduk genang kenangan mencinta
di atas sajadah basah telapak tangan menengadah:
"bukalah pintu maafmu".
bengkel puisi swadaya mandiri
jambi 27 juli 2010
JALAN BERLIKU MENUJUMU (9)
: di mesjid
sampai di muka mesjid pintu pintu dan jendela berderit
hati pun menjeritkan seruan penuh kerinduan :
kekasih, aku datang memenuhi panggilan
merajut benang menjadi kain
mengasuh kasih sepanjang biji tasbih
memasuki serambi terasa ada tangan menggamit langkah ibadah
di atas sajadah tergelar perjalanan terasa menanjak
kaki terasa tidak berpijak, jejak perjalanan kian menanjak
kedua telapak tumbuh sayap
doa melesat menembus langit
kekasih, kasihanilah aku yang mendebu
kisahkan padaku bagaimana semestinya memelihara hati
menjaga lidah dari bisikan bisikan busuk menyesatkan
menjaga telinga dari suara suara hasutan bersahutan
menjaga mata dari panorama benda benda keduniawian
bengkel puisi swadaya mandiri
jambi 27 juli 2010
NYANYIAN DUNIAWI
sepanjang jalan kurisalahkan kisah kasih dari ruang maya ke raung benda
dengus nafas pergumulan siang malam serupa nafsu kuda
berlari di atas padang sahara mengepulkan debu debu waktu
jalan masih panjang dan berliku, bergelombang
tak ada tempat berteduh bagi jiwa lepuh
tak ada ricik air bagi perasaan fakir
di atas atap sirap kau pasang parabola
kauserap gemerlap dunia benda benda
warna warni aksesori
membeli mimpi
sudah saat
berobat
Kata - Kata Yang Terselip Dari Lipatan Buku
Dimas Arika Mihardja
Kata - Kata Yang Terselip Dari Lipatan Buku
Tidak perlu mencari teman secantik Balqis
andai diri tak sehebat Sulaiman
mengapa mengharap teman setampan Yusuf
jika kasih tak setulus Zulaikha
tak perlu mengharap teman seteguh Ibrahim
andai diri tak sekuat Hajar
mengapa inginkan teman hidup sesempurna Muhammad
jangan kau kira cinta datang dari keakraban yang lama
dan pendekatan yang tekun
cinta adalah kesesuaian jiwa
dan jika itu tak pernah ada, cinta tak akan pernah tercipta
dalam hitungan tahun bahkan abadi
bersyukurlah karena dipertemukan oleh cinta
dan berdoa untuk menikmati cinta
sebenar Cinta
2011
Kata - Kata Yang Terselip Dari Lipatan Buku
Tidak perlu mencari teman secantik Balqis
andai diri tak sehebat Sulaiman
mengapa mengharap teman setampan Yusuf
jika kasih tak setulus Zulaikha
tak perlu mengharap teman seteguh Ibrahim
andai diri tak sekuat Hajar
mengapa inginkan teman hidup sesempurna Muhammad
jangan kau kira cinta datang dari keakraban yang lama
dan pendekatan yang tekun
cinta adalah kesesuaian jiwa
dan jika itu tak pernah ada, cinta tak akan pernah tercipta
dalam hitungan tahun bahkan abadi
bersyukurlah karena dipertemukan oleh cinta
dan berdoa untuk menikmati cinta
sebenar Cinta
2011
Yessi,Jangan Kau Lipat Kertas Puisi Itu
Dimas Arika Mihardja
Yessi,Jangan Kau Lipat Kertas Puisi Itu
setiap menemu puisi yang memukau, jemari tanganmu selalu melipat kertas
di halaman buku puisi itu; lalu berkalikali engkau meraba lipatan itu
sebelum pada akhirnya meneteskan airmata keharuan
begitulah, hujan lantas jatuh di dadamu yang berguncang
setiap senja melukis bianglala di luas cakrawala
engkau duduk diaduk oleh kecamuk
jemarimu bergetar dan selalu saja kembali meraba lipatan kertas
sebagai penanda sebuah puisi telah merampas hatimu
begitulah, gerimis yang semula ritmis kini menjadi hujan
berjatuhan pula buah kenangan bersama linang airmata
kini senja kembali merapat
sebentar lagi angin akan membawa pekabaran
tentang negeri yang jauh, sebuah negeri yang lama
kau ukir di dalam setiap mimpi
begitulah, lalu gerimis jatuh sebagai hujan
dadamu kembali berguncang: "aku ingin pulang," bisikmu lembut
"yessi, jangan kaulipat kertas puisi itu!"
bengkel puisi swadaya mandiri, 17 februari 2011
Yessi,Jangan Kau Lipat Kertas Puisi Itu
setiap menemu puisi yang memukau, jemari tanganmu selalu melipat kertas
di halaman buku puisi itu; lalu berkalikali engkau meraba lipatan itu
sebelum pada akhirnya meneteskan airmata keharuan
begitulah, hujan lantas jatuh di dadamu yang berguncang
setiap senja melukis bianglala di luas cakrawala
engkau duduk diaduk oleh kecamuk
jemarimu bergetar dan selalu saja kembali meraba lipatan kertas
sebagai penanda sebuah puisi telah merampas hatimu
begitulah, gerimis yang semula ritmis kini menjadi hujan
berjatuhan pula buah kenangan bersama linang airmata
kini senja kembali merapat
sebentar lagi angin akan membawa pekabaran
tentang negeri yang jauh, sebuah negeri yang lama
kau ukir di dalam setiap mimpi
begitulah, lalu gerimis jatuh sebagai hujan
dadamu kembali berguncang: "aku ingin pulang," bisikmu lembut
"yessi, jangan kaulipat kertas puisi itu!"
bengkel puisi swadaya mandiri, 17 februari 2011
Di Antara Goyang Ilalang
Dimas Arika Mihardja
Di Antara Goyang Ilalang
engkau tentu menyaksikan betapa api membakar
lalu membesar, tetapi masih juga kalian jajakan ayatayat
saling menyayat lalu diamdiam menikam keyakinan di dada
padahal ayah-ibu kita sama, pintu rumah kita lama terbuka
tetapi kalian melupa bertegur sapa
di antara goyang ilalalang kian menyata tubuh kering kerontang
tumbuh gersang dan mudah terbakar oleh sulutan dan hasutan
terus terang, aku tak fasih mengeja a-h-m-a-d-i-y-ah
aku juga tak menghafal namanama aliran sungai, desir badai
tapi, ah, di antara goyang ilalang kian menyata benar
siapa yang menyulut tubuhtubuh ilalang jadi kerontang
aliran sungai di ladang ini membentur batubatu keras
saling tabrak, saling menggasak dengan kecipak riak
lalu saling meledek seakan merasa paling benar
bukankah banyak jalan menuju ka'bah? ah, di antara goyang ilalang
selalu saja ada tangantangan kekuasaan yang tersembunyi
melentikkan api lalu berkobarlah api di antara goyang ilalang
bengkel puisi swadaya mandiri, 17 februari 2011
Di Antara Goyang Ilalang
engkau tentu menyaksikan betapa api membakar
lalu membesar, tetapi masih juga kalian jajakan ayatayat
saling menyayat lalu diamdiam menikam keyakinan di dada
padahal ayah-ibu kita sama, pintu rumah kita lama terbuka
tetapi kalian melupa bertegur sapa
di antara goyang ilalalang kian menyata tubuh kering kerontang
tumbuh gersang dan mudah terbakar oleh sulutan dan hasutan
terus terang, aku tak fasih mengeja a-h-m-a-d-i-y-ah
aku juga tak menghafal namanama aliran sungai, desir badai
tapi, ah, di antara goyang ilalang kian menyata benar
siapa yang menyulut tubuhtubuh ilalang jadi kerontang
aliran sungai di ladang ini membentur batubatu keras
saling tabrak, saling menggasak dengan kecipak riak
lalu saling meledek seakan merasa paling benar
bukankah banyak jalan menuju ka'bah? ah, di antara goyang ilalang
selalu saja ada tangantangan kekuasaan yang tersembunyi
melentikkan api lalu berkobarlah api di antara goyang ilalang
bengkel puisi swadaya mandiri, 17 februari 2011
Langganan:
Postingan (Atom)