satu malam saat kaubuka kelambu di antara tidur
dan jaga; barangkali engkau bersua kelam mengenakan jaket hitam
topi dan senapan pemburu; bayangkan, engkau tak kuasa berpaling
sementara senapan itu membidik dadamu yang terbuka
apakah engkau akan meluka? apakah engkau masih akan tetap melupa?
satu malam yang remang engkau merapa kelam
menemu sesesok bayang di balik kelambu mengajakmu kencan
semalaman; apakah engkau telah bersiap dan bersuci?
bayang itu telentang di atas ranjang
apakah tubuhmu akan menggelinjang?
di balik kelambu tidur jagamu
selalu berjaga segala bayang mengikuti langkah kaki
alur pikiranmu dan diamdiam mencatatnya dalam agenda harian
dan catatan itu kelak akan menjadi saksi
semua akan berbicara sendiri!
bengkel puisi swadaya mandiri, awal maret 2011
Senin, 28 Februari 2011
A POEM FOR MY VIRGIN SWEETIE
even you come from my womb, sweetie
really I don’t feel to have your future
when you ask to paint your all wall into black
did I push you to have a white color? No
the choice of colors is yours
anyhow, good for you to know many colors and numbers
for your future
you have been released from my womb,
back to the mighty hand to nurture ;
i was sad when you were in quiet seclusion
in favor of the dark color; I try to understand when you said
“In the darkness I saw the light, Mom”
don’t you know my sweetie ? in glooming prison
criminal spreading all over ; growing up controlled by
the hand of the darkness ;
do not imprison your soul in sullen
their seduction never get lonely, you have to go on walking
grab the shining future
SAJAK BAGI ANAK PERAWANKU
meski engkau lahir dari rahimku, anakku
sungguh aku tak merasa memiliki masa depanmu
saat kauminta mengecat hitam segala dinding kamarmu
apakah aku memaksakan warna putih? tidak
pilihan warna ada pada dirimu
tetapi pantas kaumengerti banyak warna dan angka
bagi masa depanmu
engkau telah lepas dari rahimku, kembali dalam asuhan
tangan kekuasaan; aku gelisah saat engkau banyak diam
menyukai warna legam; namun aku mengerti saat kaukatakan
"di dalam legam aku melihat cahaya, ibu"
tahukah wahai anakku? di dalam penjara yang remang
kejahatan bersimaharaja lela; tumbuh dan diasuh oleh tangan
kegelapan; jangan engkau penjara jiwamu dalam kelam
bujukrayunya tak pernah kesepian dan engkau harus tetap berjalan
meraih masa depan gemerlapan
translate by Nugroho Suksmanto
really I don’t feel to have your future
when you ask to paint your all wall into black
did I push you to have a white color? No
the choice of colors is yours
anyhow, good for you to know many colors and numbers
for your future
you have been released from my womb,
back to the mighty hand to nurture ;
i was sad when you were in quiet seclusion
in favor of the dark color; I try to understand when you said
“In the darkness I saw the light, Mom”
don’t you know my sweetie ? in glooming prison
criminal spreading all over ; growing up controlled by
the hand of the darkness ;
do not imprison your soul in sullen
their seduction never get lonely, you have to go on walking
grab the shining future
SAJAK BAGI ANAK PERAWANKU
meski engkau lahir dari rahimku, anakku
sungguh aku tak merasa memiliki masa depanmu
saat kauminta mengecat hitam segala dinding kamarmu
apakah aku memaksakan warna putih? tidak
pilihan warna ada pada dirimu
tetapi pantas kaumengerti banyak warna dan angka
bagi masa depanmu
engkau telah lepas dari rahimku, kembali dalam asuhan
tangan kekuasaan; aku gelisah saat engkau banyak diam
menyukai warna legam; namun aku mengerti saat kaukatakan
"di dalam legam aku melihat cahaya, ibu"
tahukah wahai anakku? di dalam penjara yang remang
kejahatan bersimaharaja lela; tumbuh dan diasuh oleh tangan
kegelapan; jangan engkau penjara jiwamu dalam kelam
bujukrayunya tak pernah kesepian dan engkau harus tetap berjalan
meraih masa depan gemerlapan
translate by Nugroho Suksmanto
PESTA PUISI
kau mengajakku kencan dalam pesta puisi di negeri serinbu seloka
apakah aku mesti mengenakan sepatu kaca dan gaun berenda?
engkau berbisik di telingaku, "ah, kakimu terlampau bagus untuk semua jenis sepatu
dan kulitmu terlampau mulus mengenakan gaun apapun"
sudah kuduga, engkau akan menghujankan kata-kata yang dipungut dari langit
seakan aku akan mabuk jika kaukatakan ada kejora di mataku
bunga tebu tumbuh di sela bibirku
engkau selalu saja menyodorkan madu di tangan kanan
dan racun di tangan kiri
aku tak harus memilih antara madu atau racun
mau tetapi nasib terbantun
tak mau namun hidup terasa diayun
kupastikan, aku takkan mabuk dipesta puisi
sebab puisi yang harus memungut kata dari angkasa
tak harus menyiram kata wangi bunga
puisi adalah diri dan pribadi
pergilah ke pesta yang penuh rayuan dan sanjung puji
aku memilih berdiri di ambang batas ada
dan tiada
akhir februari, 2011
apakah aku mesti mengenakan sepatu kaca dan gaun berenda?
engkau berbisik di telingaku, "ah, kakimu terlampau bagus untuk semua jenis sepatu
dan kulitmu terlampau mulus mengenakan gaun apapun"
sudah kuduga, engkau akan menghujankan kata-kata yang dipungut dari langit
seakan aku akan mabuk jika kaukatakan ada kejora di mataku
bunga tebu tumbuh di sela bibirku
engkau selalu saja menyodorkan madu di tangan kanan
dan racun di tangan kiri
aku tak harus memilih antara madu atau racun
mau tetapi nasib terbantun
tak mau namun hidup terasa diayun
kupastikan, aku takkan mabuk dipesta puisi
sebab puisi yang harus memungut kata dari angkasa
tak harus menyiram kata wangi bunga
puisi adalah diri dan pribadi
pergilah ke pesta yang penuh rayuan dan sanjung puji
aku memilih berdiri di ambang batas ada
dan tiada
akhir februari, 2011
Jumat, 25 Februari 2011
CLEANING THE DUST
; a free translation and appreciation for Dimas Arika Mihardja
self-purifying! That’s what you teach me for five times I rub the dust
that sticks at all over the body. Water gurgling, bailer responding
gently draining glitter and gurgling His affection
kind of early the drizzle come
I wipe out pieces of dust in the heart
in cautious I touch this heart
to be alert and awaked
clean and crystal clear
and the drizzle drop
clinking on the house of prayers roof
seep and then sneak to skin pores
wash up walls of the heartT
that shivering
MEMBERSIHKAN DEBU
by Dimas Arika Mihardja on Wednesday, February 16, 2011 at 6:17am
bersuci! begitulah sehari lima kali engkau ajari aku mengusap debu
yang lengket di seluruh tubuh. gericik air,gayung bersambut
dengan lembut mengucurkan kilau dan gericik kasih-Nya
sepagi ini gerimis jatuh
kuusap serpihan debu di hati
hatihati, kusayangi hati ini
untuk siaga dan terjaga
bersih dan bening
gerimis pun jatuh
berdenting di atap rumah ibadah
meresap lalu menyusup ke pori
membasuh dindingdinding hati
yang merinding
16 februari 2011
Translate by Nugroho Suksmanto
self-purifying! That’s what you teach me for five times I rub the dust
that sticks at all over the body. Water gurgling, bailer responding
gently draining glitter and gurgling His affection
kind of early the drizzle come
I wipe out pieces of dust in the heart
in cautious I touch this heart
to be alert and awaked
clean and crystal clear
and the drizzle drop
clinking on the house of prayers roof
seep and then sneak to skin pores
wash up walls of the heartT
that shivering
MEMBERSIHKAN DEBU
by Dimas Arika Mihardja on Wednesday, February 16, 2011 at 6:17am
bersuci! begitulah sehari lima kali engkau ajari aku mengusap debu
yang lengket di seluruh tubuh. gericik air,gayung bersambut
dengan lembut mengucurkan kilau dan gericik kasih-Nya
sepagi ini gerimis jatuh
kuusap serpihan debu di hati
hatihati, kusayangi hati ini
untuk siaga dan terjaga
bersih dan bening
gerimis pun jatuh
berdenting di atap rumah ibadah
meresap lalu menyusup ke pori
membasuh dindingdinding hati
yang merinding
16 februari 2011
Translate by Nugroho Suksmanto
Kamis, 24 Februari 2011
INONG BALLE, SUI LAN, YESSIKA, DAN NYI GONDOSULI
[ sebuah kisah imajiner di negeri kata-kata]
INONG BALEE bergegas ke ruang ganti pakaian. Ia kenakan jilbab warna kesayangannya. Ia selipkan rencong di pinggangnya lalu bergegas menemui sahabat-sahabatnya di ujung jalan. Di ujung jalan itu NYI GONDOSULI menggeraikan rambut peraknya. Matanya seperti biasa memancarkan kejora. Persis di hadapannya berdiri SUI LAN dan YESSIKA. Mereka bersiap menuju medan laga, menyebarkan virus cinta.
"Jauh tualang kutempuh, kaki melepuh, pikiran kumuh, ke manakah pelabuhan tempat berlabuh?" SUI LAN mulai membuka bibirnya yang mungil dan menyenandungkan nafas perjalanan di medan perjuangan mendapatkan cinta sejati. NYI GONDOSOLI tersenyum dikulum. Pemikirannya selalu ranum dan dengan mudah tercium dari beberapa tombak jaraknya. YESSIKA, seperti biasa, diam merenung sedikit murung.
INONG BALEE yang tergolong paling muda lalu tak mau ketinggalan melontarkan gagasannya, " menatap mulut lorong ini aku dengar lolong menyisir lekukliku rindu yang rindang; memasuki ruang gelap semalaman aku meraba kelam, mabuk di celah bukit dan lembah yang basah lalu terasa ada desah pasrah; aku pun terbang di sela stalagtit dan stalakgit menebar berjuta magnit melangitkan cinta rindu, menggigilkan rasa girang yang rindang; mulai kupahami kini hidup dari lorong ke lorong dari rahim ke rahim-Nya."
NYI GONDOSULI yang mengaku sebagai anaknya SUTO KLUTUK lalu mengucapkan mantra-mantra saktinya sembari merentangkan kedua tangannya; " honocoroko hidupku, dotosowolo tekadku, podojoyonyo arahku, mogobotongo matiku". Angin lalu berkesiur memporandakan rambut NYI GONDOSULI yang berwarna perak. YESSIKA, SUI LAN, dan INONG BALEE lalu tergerak mengikuti langkah demi langkah di belakang NYI GONDUSULI. Mereka berjalan menuju lembah, melewati sawah-sawah, menyusuri aliran sungai hingga sampai ke muara du mulut samodera. Di pesisir pantai mereka lalu melukis warna cinta di butir-butir pasir. Mereka amat menikmati saat lukisan cinta itu dijilat lidah ombak hingga pelan terhapus.
Mereka berempat hakikatnya ialah empat mata angin: Barat, Selatan, Timur, dan Utara. INONG BALEE datang dari Barat, YESSIKA berasal dari Selatan, NYI GONDOSULI dari arah Utra, dan SUI LAN berasal dari Timur. Empat kiblat ini tak terpisahkan dari ekosistem, saling melengkapi dan saling memerlukan satu diantara yang lainnya. Begitu menyebut INONG BALLE, maka akan terikut NYI GONDOSULI, SUI LAN, dan YESSIKA. Begitu, dan seterusnya. Satu halyang membuat dan menjadikan kekuatan mereka ialah cinta. Cintalah yang mengasuh dan membesarkan mereka.
SUI LAN kembali menemukan kata-kata "Pada Sebuah Taman", kemudian dinyanyikan serupa nyayian seribu burung, "Biarkan katupan mata menyatakan gairah bunga yang menyimpan rahasia kekasih. Betapa jeritan kecil dari tisp kuntum,ada tebaran wangi. Dalambisikan angin burung-burung pada mabuk meluruhkan senja. Luruhlah sepi sampai tetes terakhir kerinduanku. Bila sudah tidak jingga lagi dedaunan dan bayang cinta pun fana, aku masih di sini sebab antara kita tak pernah ada sangsi."
Lalu NYI GONDOSULI kembali melantunkan kata-kata yang memiliki kekuatan mantra, "Sejuta bunga, sejuta aroma, selalu setia pada kata: Cinta. April menyimpan gigil, ritualan memanggil sang resi,sang wiku,sang pertapa andika yang berdiri di gapura terimalah tembang jiwa tuk warih gemericik daya menepis sungkawa, sudah sun dengar semuanya: gurit langit tembang dendang doa mantera tabir kabur jadi terang, teduh damai segala rimba gunung dan padang."
Sembari memandang riak dan ombak lautan yang bergelora, INONG BALLE pun turut menjadi saksi " ketika kita terhuyung-huyung dalam goncangan panjang, ketika kita bersidekap rapat dengan bumki, ketika kita tak pernah tahu tanah rekah, air laut surut berdepa-depa, ketika ia menjulurkan lidahnya ke angkasa, ikan-ikan menggelepar,pasir-pasir mengering, rumput laut tak sembunyi di balik karang, lalu sebagian dari kita berhamburan ke tengah pasir, silau oleh gemerlap sisik ikan, bagai kunang-kunang yang mabuk cahaya,seakan bara siap mengharumkannya, perut sejengkal sudah sehasta, berbongkah-bongkah daging merah, gerah menari di lidahnya..."
YESSIKA berjalan menuju karang lalu dari mulutnya meloncat baris-baris syair ini:" lalu sepi menyileti dan nyeri ngucap kalimat tobat; hati kembali suci terkafani; sepikat cinta, sepekat noda dosa kembali memisteri : lorong di hidung menafaskan hidup; lolong di sepanjang lorong jalan dan gang mengejang mengajak pulang ke asal mula lorong: a l a n g k a h p a n j a n g lolong di lorong ini saat senyap kembali mengerjap dan menyergap!
EMPAT KIBLAT, empat mata angin telah merapat di pesisir pantai. Riak dan ombak terus bergerak. Ombak berkembang menjadi gelombang dan mereka tak henti menyanyikan kasih sayang sepanjang tualang.
SAJAK LOLONG SEPANJANG LORONG
menatap mulut lorong ini aku dengar lolong
menyisir lekukliku rindu yang rindang
masuk di ruang gelap semalaman aku meraba kelam
mabuk di celah bukit dan lembah yang basah
ada desah pasrah menggelinjang di ranjang
aku pun terbang di sela stalagtit dan stalakgit menebar berjuta magnit
melangitkan cinta rindu
menggigilkan rasa girang yang rindang
yang merinding
mulai kupahami :
hidup dari lorong ke lorong
dari rahim ke rahim-Nya
lalu sepi menyileti
dan nyeri ngucap kalimat tobat
hati kembali suci terkafani
sepikat cinta, sepekat noda dosa
kembali memisteri : lorong di hidung
menafaskan hidup;
lolong di sepanjang lorong
jalan dan gang mengejang
mengajak pulang
ke asal mula lorong:
a l a n g k a h p a n j a n g
lolong di lorong ini saat senyap kembali mengerjap
dan menyergap!
bengkel puisi swadaya mandiri jambi, 2010
menyisir lekukliku rindu yang rindang
masuk di ruang gelap semalaman aku meraba kelam
mabuk di celah bukit dan lembah yang basah
ada desah pasrah menggelinjang di ranjang
aku pun terbang di sela stalagtit dan stalakgit menebar berjuta magnit
melangitkan cinta rindu
menggigilkan rasa girang yang rindang
yang merinding
mulai kupahami :
hidup dari lorong ke lorong
dari rahim ke rahim-Nya
lalu sepi menyileti
dan nyeri ngucap kalimat tobat
hati kembali suci terkafani
sepikat cinta, sepekat noda dosa
kembali memisteri : lorong di hidung
menafaskan hidup;
lolong di sepanjang lorong
jalan dan gang mengejang
mengajak pulang
ke asal mula lorong:
a l a n g k a h p a n j a n g
lolong di lorong ini saat senyap kembali mengerjap
dan menyergap!
bengkel puisi swadaya mandiri jambi, 2010
BUSUR CINTA YESSIKA
[sebuah sajak yang mungkin saja mengingatkan "pacar senja" joko pinurbo]
Kekasih Senja duduk di beranda. Pandang matanya mengarah ke barat. Matahari berkilau dengan emasnya. Ia seakan mendengar kepak sayap dan derap kaki kuda, seseorang pengembara membawa gendewa berpanah asmara. Kekasih Senja masih bersetia dengan keyakinan: Ia akan datang pada satu masa membawa tanda cinta. Begitulah, Kekasih Senja selalu memanjatkan doa dan pengharapannya, membahasakan rindu dan penantiannya dengan sebongkah rasa yang meruah.
"Aku datang, Cinta!" dengan jelas ia mendengar kerisik angin yang menggesek daun-daun waru di belakang rumahnya. Daun-daun waru itu, yang semula penuh dengan debu, bergoyang-goyang ke kiri dan ke kanan seakan melafazkan dzikir. Rimbun daun waru itu lalu menghijau oleh desau dan belaian angin. Angin lalu berbisik dengan kerisiknya yang khas, "Aku membawa warta, masa yang kalian tunggu sedegap rindu telah melesat meuju ke mari. Ia menunggang kuda putih dan di pungungnya tergendong gendewa berbusur cinta."
"Begitukah?"
Kekasih Senja lalu berdiri dengan gairah. Dadanya terasa sesak oleh harap dan keinginan berdekapan. Matahari telah tenggelam di ufuk keteduhan. Kekasih Senja memasuki ruang pribadinya untuk bersegera melakukan ritual penyambutan. Ia bergegas mandi keramas. Air menderas. Membasuh seluruh tubuh Kekasih Senja. Dari bibir mungilnya lalu terdengar senandung " Aku masih, seperti dahulu.Menunggumu sampai akhir hidupku..." Byur. Byur. Suara air menyiram tubuhnya yang jelita.
Pelan tetapi pasti Kekasih Senja membentangkan sajadah. Telah ia kenakan kelengkapan ritual pemujaan untuk menyambut pengendara kuda bersayap yang menggendong gendewa berbusur cinta. Pelan Kekasih Senja membuka pintu di dadanya. Ia buka pula segala yang bernama jendela. Lalu dengan desah pasrah meluncurlah kidung dan senandung puja-puji yang meluncur dari beranda dadanya. Kekasih Senja seperti sedia kala, bersiap menyambut kehadiran demi kehadiran Sang Pujaan.
Sanggar Kreasi, 24 Februari 2011
Kekasih Senja duduk di beranda. Pandang matanya mengarah ke barat. Matahari berkilau dengan emasnya. Ia seakan mendengar kepak sayap dan derap kaki kuda, seseorang pengembara membawa gendewa berpanah asmara. Kekasih Senja masih bersetia dengan keyakinan: Ia akan datang pada satu masa membawa tanda cinta. Begitulah, Kekasih Senja selalu memanjatkan doa dan pengharapannya, membahasakan rindu dan penantiannya dengan sebongkah rasa yang meruah.
"Aku datang, Cinta!" dengan jelas ia mendengar kerisik angin yang menggesek daun-daun waru di belakang rumahnya. Daun-daun waru itu, yang semula penuh dengan debu, bergoyang-goyang ke kiri dan ke kanan seakan melafazkan dzikir. Rimbun daun waru itu lalu menghijau oleh desau dan belaian angin. Angin lalu berbisik dengan kerisiknya yang khas, "Aku membawa warta, masa yang kalian tunggu sedegap rindu telah melesat meuju ke mari. Ia menunggang kuda putih dan di pungungnya tergendong gendewa berbusur cinta."
"Begitukah?"
Kekasih Senja lalu berdiri dengan gairah. Dadanya terasa sesak oleh harap dan keinginan berdekapan. Matahari telah tenggelam di ufuk keteduhan. Kekasih Senja memasuki ruang pribadinya untuk bersegera melakukan ritual penyambutan. Ia bergegas mandi keramas. Air menderas. Membasuh seluruh tubuh Kekasih Senja. Dari bibir mungilnya lalu terdengar senandung " Aku masih, seperti dahulu.Menunggumu sampai akhir hidupku..." Byur. Byur. Suara air menyiram tubuhnya yang jelita.
Pelan tetapi pasti Kekasih Senja membentangkan sajadah. Telah ia kenakan kelengkapan ritual pemujaan untuk menyambut pengendara kuda bersayap yang menggendong gendewa berbusur cinta. Pelan Kekasih Senja membuka pintu di dadanya. Ia buka pula segala yang bernama jendela. Lalu dengan desah pasrah meluncurlah kidung dan senandung puja-puji yang meluncur dari beranda dadanya. Kekasih Senja seperti sedia kala, bersiap menyambut kehadiran demi kehadiran Sang Pujaan.
Sanggar Kreasi, 24 Februari 2011
Langganan:
Postingan (Atom)